Keutamaan Bersepi-sepi dengan Allah

Posted on

Bukankah setiap malam adalah memang malam-malam yang istimewa bagi setiap manusia? sebab setiap malam, ya, setiap malam Allah pemilik jagad ini, pemberi karunia kepada seluruh penghuni alam dan seisinya, pembebas dari segala derita, penghibur duka, pemberi segala kesenangan, turun mengunjungi hamba-hamba-Nya yang mau melakukan sholat malam, mengorbankan sedikit dari kesenangan tidur yang diberikan-Nya untuk kemudian Ia jawab segala keinginan dan keluh kesahnya.

  • Bagi siapa yang menghendaki kekayaan akan diberi-Nya kekayaan
  • Bagi siapa yang miskin, akan dikayakan. Yang kurang akan dicukupkan
  • Bagi siapa yang menghendaki kemuliaan, akan diberi-Nya kemuliaan
  • Bagi siapa yang menghendaki perubahan dan perbaikan hidup, akan diubah dan diperbaiki hidupnya tuk menjadi lebih baik lagi
  • Bagi siapa yang memiliki hutang akan dibayarkan hutangnya
  • Bagi siapa yang tersendat bisnisnya, akan dilancarkan
  • Bagi siapa yang belum bekerja akan diberi-Nya pekerjaan, atau bahkan mungkin usaha
  • Bagi siapa yang belum memiliki jodoh akan dicarikan-Nya jodoh yang bagus
  • Bagi siapa yang belum memiliki keturunan, akan diberi-Nya keturunan
  • bagi siapa yang sakit, disembuhkan
  • Bagi siapa yang memiliki masalah, akan diringankan masalahnya, dicarikan jalan keluar bagi kebuntuannya, dan dianugerahi kemampuan ditengah ketidakmampuan dan ditengah ketidakberdayaannya

Itulah sebagian kecil dari keutamaan bersepi-sepi dengan Allah, memanfaatkan waktu malam bangun tahajud qiyamul lail

Dari Jabir, ia berkata : saya mendengar Rasulullah bersabda, sesungguhnya pada malam hari terdapat satu saat yang mana pada saat itu tiada seorang muslim yang memohon kepada Allah akan kebaikan dunia dan akhirat melainkan Allah pasti memberikan padanya, Dan satu saat yang dimaksud itu ada disetiap malam (HR.At-Turmudzi)

Dan luqman dalam tafakurnya dalam wirid dan zikirnya ia hiasi malam-malam yang ia lewati dengan melakukan sebuah perenungan, sebuah intropeksi atas kejadian demi kejadian, dan sebagai malam-malam munajad penuh harapan. Harapan pengampunan, harapan bantuan penyelesaian masalahnya dan harapan perbaikan kehidupannya dan kehidupan orang-orang disekitar yang ia kasihi

Dalam perenungannya, kadang ia tertawa sendiri. Kadang ia menangis, kadang ia menjerit dalam hati. Dan kadang ia juga tersenyum, ketika ia tersenyum, katanya Ia membayangkan ALlah sedang “merentangkan tangan-Nya” bak menerima kembali “hambanya yang hilang” atau ia membayangkan Allah tidak mau “menoleh” kepadanya yang sedang bermunajat, memalingkan mukanya karena itulah ia menangis. Atau disuatu waktu, ia seperti yang tersekat. Menjerit tetapi tak bersuara. Ia seperti “berwisata hati” melihat tepian neraka…

Sering dalam perenungannya, ia merenungi firman Allah yang satu ini :

“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit (Thaha:124)

Siapapun tidak menghendaki kesusahan, tidak menginginkan kesusahan, tidak menginginkan kesulitan dikehidupan dunia ini, hendaknya selalu berbuat baik, yang lebih baik tidak mencoba hal yang buruk-buruk. Dan inilah kebenaran yang ia rasakan…

 

 

Ustadz Yusuf Mansur – Mencari Tuhan yang hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *